Cari Artikel

Jumat, 22 Juli 2011

Suntik Vitamin C


Suntik vitamin C akhir-akhir ini menjadi tren di kalangan wanita. Tidak dipungkiri, pengakuan rata-rata para penggunanya bahwa metode suntik vitamin C mampu menampilkan kecerahan warna kulit dalam waktu yang relatif singkat (walaupun dengan hasil beragam diantara pengguna), serta faktor harga yang cukup terjangkau (meski harus dilakukan secara berkala), turut menambah ketertarikan para wanita.
Setiap wanita tentu menginginkan warna kulit yang cerah dan bersinar. Berbagai cara ditempuh untuk memperoleh hal itu salah satunya metode suntik vitamin C. Namun demikian apakah kita sudah memperhatikan keamanannya? Yuk kita tengok sekilas seputar suntik vitamin C ini.
Apakah manfaat vitamin C ini?
  • Vitamin C merupakan antioksidan utama dari semua jenis vitamin dalam melawan radikal bebas yang berperan dalam terjadinya problem seputar kulit, seperti penuaan dini, kulit kusam, serta munculnya flek hitam
  • Vitamin C juga berperan meningkatkan sistem imum terhadap penyakit
  • Selain itu Vitamin C berperan dalam pengaturan fungsi tuguh serta penyerapan zat-zat gizi tertentu
  • Dalam hal penerapannya pada kosmetik, vitamin C berperan dalam peremajaan kulit serta mencegah penuaan dini akibat radikal bebas dan paparan sinar matahari
Sumber vitamin C
Vitamin C banyak terdapat pada buah-buahan seperti jeruk, pepaya, jambu biji, pisang, anggur, apel, dsb. Serta dari sayuran seperti tomat, brokoli, bayam, paprika, dll. Namun demikian, kenyataan dari banyak riset menunjukkan karena pengaturan diet yang tidak sesuai asupan alami seringkali tidak mencukupi standard kecukupan gizi. Kebutuhan vitamin C pada orang dewasa sedikitnya 75 - 500 mg / hari tergantung aktivitas, lingkungan, usia, serta faktor lainnya. Pada wanita hamil dan menyusui, dibutuhkan lebih banyak asupan vitamin C. Untuk itulah banyak para ahli menganjurkan tambahan asupan dalam bentuk suplemen.
Bagaimana dengan tambahan asupan dengan metode Suntik Vitamin C?
Sama seperti prinsip terapi lainnya, dibandingkan konsumsi oral, cara injeksi lebih efektif dalam distribusinya karena zat-zat tsb langsung masuk ke dalam peredaran darah sekaligus mengurangi kemungkinan kadar vitamin (terutama asam askorbat) yang mudah larut dalam air ini hilang selama proses metabolisme secara oral. Selain itu terdapat pertimbangan atas sifat vitamin C oral yang yang dapat mengakibatkan iritasi lambung.
Selain metode suntik, sekarang juga dikenal Vitamin C yang dioleskan ke kulit dalam bentuk serum yang memiliki molekul sangat mikro yang oleh beberapa ahli lebih dianjurkan daripada cara lain.
Faktor lain yang menjadi pertimbangan cara suntik adalah resiko dan keamanannya. Meski tergolong relatif aman, proses injeksi vitamin C tetap harus dimonitoring oleh ahlinya, karena seperti obat-obat injeksi lainnya, terlebih yang diberikan secara intravena (langsung ke pembuluh darah) memiliki faktor resiko shock lebih besar bagi pasien yang kebetulan hipersensitif terhadap zat aslinya.
Penelusuran lebih lanjut untuk faktor keamanan juga bisa dilakukan melalui proses screening pemeriksaan medis detil dan wawancara terarah dengan pasien terutama bagi pasien yang memiliki gangguan fungsi ginjal dan sistem metabolisme tidak dianjurkan mendapatkan suntik vitamin C.
Agar memperoleh manfaat maksimal, sebelum melakukan suntik vitamin C, perhatikan fakta berikut ini:
1. Suntik vitamin C biasanya diberikan dengan kadar cukup tinggi di dalam darah. Jumlah tersebut akan diserap ke berbagai organ dan hanya sebagian saja yang sampai ke kulit, sehingga efektivitasnya pun dapat bervariasi pada setiap orang.
2. Tindakan suntik vitamin C seringkali digunakan sebagai terapi tambahan dari perawatan kulit lainnya. Sedangkan untuk perawatan dan peremajaan kulit agar tetap kenyal dan mulus dengan hasil maksimal sampai saat ini adalah terapi topikal (terapi luar seperti halnya pemberian krim kulit pagi dan malam).
3. Pemenuhan kebutuhan vitamin C bisa diperoleh pada buah-buahan, suntikan, dan suplemen. Ketiganya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Melalui suntik vitamin C tubuh dapat memperoleh dosis tinggi langsung ke dalam darah. Hanya saja, tidak seluruh vitamin C dosis tinggi itu akan terserap oleh tubuh. Kelebihannya akan tetap terbuang melalui urine. Sedangkan, meski dosisnya tidak tinggi, dengan mengonsumsi makanan atau buah-buahan yang kaya vitamin C, tubuh mendapatkan vitamin dan nutrisi lainnya (seperti vitamin E dan A) yang dapat memperkuat kerja vitamin C. Suplementasi vitamin C memang sebaiknya diberikan secara kombinasi dengan vitamin dan nutrisi lainnya.
4. Sebelum tindakan suntik vitamin C, pastikan bahwa fungsi ginjal dan hati pasien normal, serta tidak ada riwayat alergi terhadap vitamin tersebut. Fungsi ginjal dan hati sangat berpengaruh pada penyerapan vitamin C.
5. Suntik vitamin C dengan dosis 2-5 gr lewat intravena (pembuluh darah), dapat dilakukan seminggu sekali atau dengan jarak interval lebih lama (bergantung pada penilaian dokter). Tak ada patokan khusus, melainkan dilihat dari kebutuhan dan indikasinya.
Hasil penyuntikan vitamin C akan bervariasi pada setiap individu. Efektivitas terapi dilihat dari kulit yang lebih kencang, kenyal, dan cerah setelah mendapatkan terapi dalam waktu tertentu. Terapi sebaiknya dihentikan bila muncul efek samping atau bila hasilnya tidak cukup signifikan.
6. Vitamin C cukup aman digunakan oleh sebagian besar orang. Kalaupun ada, keluhan yang biasanya muncul adalah diare dan kembung. Kekhawatiran pemberian vitamin C dosis tinggi dapat menimbulkan batu ginjal pun tidak relevan karena banyak laporan ilmiah membantahnya. Terapi dengan vitamin C tidak menyebabkan pembentukan batu ginjal. Bahkan pemberian sampai 10 gr per hari tidak menunjukkan tanda-tanda pembentukan batu ginjal
(sumber: Kompas.com dan beberapa situs lainnya)

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Monggo, Silahkan berkomentar